Insan Kamil official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Tampilkan postingan dengan label Waspadai Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waspadai Media. Tampilkan semua postingan

**Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi

Minggu, 08 Juli 2012


Jangan biasakan anak Anda menonton televisi meskipun masih bayi. Penelitian menyebutkan bayi yang menonton tv cenderung mengalami keterlambatan kognitif dan bahasa di 14 bulan pertama.

Penelitian dari New York University School of Medicine-Bellevue Hospital Center mengatakan bayi yang menonton tv 60 menit setiap hari, memiliki perkembangan tiga kali lebih rendah setelah 14 bulan dibanding yang tidak.

Meskipun perkembangan tersebut masih dalam kisaran normal, perbedaan yang nyata terlihat ketika anak-anak dan orang tua menonton tv bersama. Dalam kondisi ini, mereka lehilangan waktu berbicara, bermain dan berinteraksi untuk pembelajaran dan perkembangan.

Untuk pilihan program acara, penelitian ini juga tidak memberikan nilai plus minus. Meskipun anak menonton program yang berbau pendidikan, orang tua malah menghabiskan waktu sedikit untuk mengajar anak membaca dan sebagainya.

Walaupun anak terbantu belajarnya dengan berbagai macam program pendidikan, pada kenyataannya anak-anak akan lebih mudah memahami sekaligus senang ketika diajarkan langsung oleh orang dewasa. Pengasuh elektronik bukanlah bantuan pendidikan.
“Mengajarkan anak langsung berbicara dan membaca akan membuat anak merasa bergembira saat belajar. Dan penelitian ini sangat memberikan keterbukaan bagi orangtua yang masih enggan mengajar langsung untuk anak-anak mereka,” tambah para peneliti.

src : tribunnews.com

**Televisi Membuat Anak Cepat Dewasa***

Senin, 05 Maret 2012

Apakah anak Anda tahu banyak soal seks dan hubungan asmara dibandingkan pelajarannya di sekolah? Jika demikian bisa jadi anak Anda banyak menyaksikan acara dewasa. Semakin banyaknya iklan yang provokatif dan terlalu banyaknya tayangan dewasa di televisi dapat mendewasakan anak-anak lebih dini.
Boy Watching Television

Survei yang dilakukan oleh pengawas Inggris Advertising Standards Authority (ASA) untuk Departemen Pendidikan, menemukan bahwa sekitar sembilan dari sepuluh orangtua percaya bahwa anak-anak berada di bawah tekanan untuk bertindak lebih dewasa dibandingkan diri mereka sendiri. Hal ini disebabkan acara yang vulgar, serta iklan-iklan eksplisit yang ditayangkan di TV.
Para peneliti mencatat bahwa acara TV dan iklan berbau seks dan penampilan yang senonoh memaksa anak-anak menjadi “dewasa sebelum usia.”

Dalam jajak pendapat, hampir 50 persen orangtua mengatakan waktu tayang yang merupakan sebuah kebijakan untuk melindungi anak-anak dari konten dewasa, tidak lagi berlaku. Sementara 41 persen mengaku bahwa mereka melihat acara televisi yang berisi hal-hal cabul yang mereka anggap tidak pantas untuk dilihat anak-anak ditayangkan dalam waktu tayang anak-anak. Dan, 40 persen mengatakan mereka telah melihat papan iklan yang tidak boleh dilihat anak-anak.

Reg Bailey, yang saat ini mengkaji komersialisasi dan seksualisasi masa kanak-kanak, mengatakan, saat ini orangtua lebih khawatir dengan pengalaman anak-anak dalam sehari-hari. “Orangtua mengatakan kepada kita dengan tegas bahwa mereka khawatir tentang tekanan pada anak-anak yang tumbuh terlalu cepat. Hal ini jelas bahwa kekhawatiran bukan dari kepanikan moral tetapi dari pengalaman sehari-hari mereka,” jelasnya.

Sementara itu, dalam sebuah penelitian serupa yang dilakukan oleh Universitas London pada tahun 2003 menunjukkan bahwa 68 persen anak-anak mencari informasi seks dari media, 66 persen bertanya kepada ibu mereka, dan hanya 34 persen anak-anak berkonsultasi dengan ayah mereka tentang hal-hal yang berbau seksual. Para peneliti mencatat kebanyakan anak-anak mengaku menikmati pengetahuan secara mutlak mulai usia 11 tahun. Sumber

Apa Sih, Dampak Anak di Depan Komputer/TV Tak Lebih dari Dua Jam?

Rabu, 20 Oktober 2010

NEW YORK--Selama lebih dari dua jam sehari menonton televisi ataupun bermain "video game" di komputer dapat memberikan risiko yang lebih besar bagi anak-anak pada masalah kejiwaan apapun tingkat aktivitas mereka, demikian menurut sebuah penelitian di Inggris pada Selasa.

Para peneliti dari Universitas Bristol meneliti lebih dari 1.000 anak kecil yang berumur sepuluh hingga 11 tahun. Selama lebih dari tujuh hari, mereka mengisi kuesioner yang menanyakan intensitas waktu yang mereka habiskan sehari-hari di depan televisi atau komputer dan menjawab pertanyaan yang menjelaskan keadaan jiwa mereka, termasuk emosi, tingkah laku, dan masalah yang bersangkutan lainnya sementara sebuah pengukur tingkah laku (accelerometer) memantau aktivitas fisik mereka.

Jumlah selisih kerumitan kejiwaan secara signifikan sebanyak sekitar 60 persen lebih tinggi bagi anak kecil yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam selama satu hari di depan salah satu layar tersebut, dibandingkan dengan mereka yang menonton pada waktu yang lebih sedikit, kata laporan para peneliti di dalam jurnal Pediatrics.

KPAI: 33 Anak Diperkosa Gara-gara Video Porno Ariel

Selasa, 29 Juni 2010


Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai peredaran video porno artis memberikan dampak negatif sangat besar. Puluhan anak diperkosa gara-gara pelaku terpengaruh video porno artis.

“Dari tanggal 14 Juni-23 Juni KPAI terima laporan 33 anak diperkosa umur antara 4-12 tahun,” ujar Ketua KPAI Hadi Supeno kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Kamis (24/6/2010).

Menurut Hadi, video porno Ariel benar-benar sangat berdampak buruk bagi anak-anak. Sebab, kalangan muda, pelajar begitu mengidolakan artis tersebut.

“Sesuatu yang dikagumi akan daya tarik,” imbuhnya.

Hadi menjelaskan, jumlah korban perkosaan terhadap anak-anak pasca keluarnya video porno Ariel begitu memprihatinkan. Para pelaku mengaku sebelum memperkosa, mereka menonton video Ariel.

“Yang melakukan 16-18 tahun. Seluruh pelaku yang tertangkap polisi mengaku terangsang setelah menyaksikan tayangan seks Ariel,” ungkapnya. (detik.com, 24/6/2010)

Pemerintah Belum Serius Lindungi Anak dari Promosi Rokok

Sabtu, 22 Mei 2010



JAKARTA--Kelly Clarkson yang baru saja menghelat konsernya di Jakarta pada Kamis (29/4) lalu menolak dikatakan tidak peduli terhadap perlindungan anak dari promosi rokok. Sehingga konsernya sama sekali tidak menunjukkan pernak-pernik iklan rokok.

''Ketika seorang diva luar negeri dengan tegas menolak dirinya dikaitkan dengan ketidakpedulian terhadap perlindungan anak dari promosi rokok, pemerintah Indonesia justru belum memberikan upaya konkret untuk melindungi anak bangsanya sendiri,'' tutur Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi, di Jakarta, Jumat (30/4).

Kak Seto, panggilan akrab Seto Mulyadi memaparkan ketika banyak negara beradab lainnya melarang iklan, promosi, dan sponsor rokok, Indonesia justru menjadi negara di mana industri rokok dengan bebas melakukan pemasarannya dalam berbagai strategi yang menarik anak dan remaja. Yaitu melalui sponsor musik, film, dan juga olahraga.

Bahkan ketika Kementerian Kesehatan mengajukan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan di mana di dalamnya tertuang pelarangan iklan, promosi, dan sponsor rokok, banyak pihak yang menolak keberadaannya.

''Regulasi ini justru dituduh sebagai regulasi pesanan asing. RPP tentang rokok ini seharusnya dipandang sebagai salah satu upaya nyata Kementerian Kesehatan untuk melindungi segenap warga Indonesia termasuk anak,'' keluh Kak Seto.

RPP ini dijelaskan Kak Seto, berisi perlindungan rakyat dari dampak buruk rokok. Yang di dalamnya mengatur tentang pelabelan peringatan kesehatan bergambar, Kawasan Tanpa Rokok (KTR), serta iklan, promosi, dan sponsor rokok.republika.co.id

Televisi Pengaruhi Tumbuh Kembang dan Konsentrasi Anak

Kamis, 29 April 2010


JAKARTA--Media elektronik terutama televisi memberi pengaruh pada kemampuan konsentrasi anak. Masa kanak-kanak yang seharusnya penuh kreativitas juga menjadi lambat bahkan menghilang.

''Hal ini membahayakan bagi anak-anak. Karena anak-anak menempel ke tabung (televisi),'' ujar Sekretaris Pimpinan Pusat Asyiyah Muhammadiyah, Trias Setiawati, kepada Republika, Selasa (6/4).

Lebih berbayanya lagi, ungkap Trias, anak menjadi berkurang waktu belajarnya sehingga kecerdasan natural minim terbentuk dan akhirnya si anak menjadi kehilangan kreativitasnya.

Mengutip pada sebuah data dari bagian Tumbuh Kembang Anak Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, Trias memaparkan bahwa selama periode 1997-2001 terjadi peningkatan pasien konsultasi gangguan anak-anak karena media. Data mencatat sekitar 42 persen dari konsultasi gangguan tumbuh kembang dipicu oleh media.

''Angka tersebut kemungkinan besar meningkat pada saat ini. Terutama banyaknya media yang mempengaruhi perkembangan si anak,'' tutur Trias. Selain televisi anak juga harus menghadapi godaan untuk memainkan video game.

Akibatnya, selain hilangnya kreativitas, anak menjadi asosial atau kurang bersosialisasi dengan lingkungannya. Bahkan terkait seringnya si anak menonton televisi membuat kemampuan konsentrasi anak menjadi lebih pendek.''Pola konsentrasi mereka terbentuk dari lama tayangan di televisi dan berhenti konsentrasi saat jeda iklan,'' tutur Trias.

Meski sudah telat untuk mulai memikirkan kebijakan untuk mengurangi dampak media pada anak-anak, Trias mengungkapkan bahwa Asyiyah Muhammadiyah mulai melakukan gerakan untuk mengurangi waktu berinteraksi dengan media di antaranya televisi.''Kami sudah melancarkan gerakan untuk diet televisi yaitu mengurangi waktu menonton televisi sedikit mungkin,'' kata dia.

Di sisi lain muatan pornografi yang masih sering ditemui pada tayangan konsumsi anak-anak pun menurut Trias memicu perilaku berlebihan pada anak. Ia mencontohkan kasus bahwa anak sekolah dasar sudah mulai berani untuk berkirim surat pada lawan jenisnya dengan kata-kata mengagumi lawan jenis layaknya orang dewasa. Republika.co.id

Porsi Tayangan Anak Berlabel ‘Merah’ Masih 30 Persen

Senin, 12 April 2010


JAKARTA -Televisi disebut sebagai media yang mudah dijangkau oleh siapa saja termasuk oleh anak-anak. Televisi juga dikenal sebagai salah satu media yang memberi pengaruh terhadap anak.

Di Indonesia, banyak tayangan televisi yang khusus dibuat untuk anak, tapi tayangan yang sehat masih sedikit jumlahnya. Diakui oleh anggota Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), Nina Mutmainah Armando, sudah banyak terjadi perubahan ke arah positif pada tayangan anak di Indonesia dibanding 2004 lalu.”Jika dahulu tayangan anak berlabel merah porsinya paling besar lebih dari 50 persen, maka di 2010 ini porsi sudah bergeser menjadi 30 persen saja,” tutur dia, Ahad (11/4).

Tapi porsi tersebut, menurut Nina, masih cukup besar karena tayangan berlabel merah (berbahaya bila ditonton anak) memberi pengaruh tidak baik pada anak. Sementara porsi tayangan lainnya sekitar 30 persen berlabel kuning (hati-hati butuh pendampingan orang tua), dan sekitar 30 persen sisanya berlabel hijau (aman ditonton oleh anak).

Idealnya, menurut Nina, tayangan anak yang muncul di televisi 70 persennya masuk golongan label hijau. Sehingga saat si anak menonton tayangan khusus anak di televisi tidak terpengaruh nilai-nilai negatif.

Meski diakui Nina anak pun jangan dididik steril hanya mengetahui hal-hal atau nilai-nilai yang baik saja.”Anak-anak juga perlu mengetahui perilaku yang tidak bagus agar mereka bisa belajar realitas kehidupan dan bisa membedakan yang baik dan tidak,” jelasnya. (republika.co.id, 11/4/2010)

Internet RI Surga Bagi Penjudi Online

Rabu, 24 Maret 2010


Jakarta - Internet RI telah dijejali situs judi online. Jika satu situs judi ditutup, pindah ke domain baru. Jika bosnya tertangkap, anak buahnya yang melanjutkan dengan perintah dari dalam penjara.

Situs judi online di Indonesia tak terhitung jumlahnya. Jika menuliskan kata ‘judi’ di Google maka akan memunculkan situs-situs judi online favorit lokal maupun global. Dalam sekali klik Google bisa mengeluarkan 30 situs judi lokal yang dikelola dengan serius.

Situs judi online juga menyediakan customer service yang menjawab pertanyaan calon pemain melalui Yahoo Messenger. Untuk bisa bermain, situs judi online biasa mensyaratkan identitas calon pemain, nomor rekening bank dan nomor telepon.

Setelah mendaftar dan menyetorkan minimal uang deposit, maka calon pemain akan diberikan username dan password. Dengan username, pemain melakukan judi, namun tidak diizinkan tukar menukar identitas.

Sebuah sumber di lembaga pengawas internet mengatakan judi online di Indonesia bentuknya ada yang kecil dan besar. Disebut kecil, jika hanya berupa game dengan taruhan US$1 atau beberapa puluh ribu rupiah saja. Sementara yang besar jika harus mendepositkan sejumlah uang, mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah ke sebuah situs judi online.

“Biasanya bermula dari yang kecil yang akhirnya akan mengikuti permainan sesungguhnya dan tidak akan berhenti,” terang sumber itu. Situs-situs judi online tampaknya akan terus berkembang. Jika dilihat dari antusiasnya, omset judi online bisa mencapai miliaran rupiah setiap harinya.

Modus penyebaran judi online itu dari orang per orang. Biasanya pemain judi online akan merekomendasikan sebuah situs judi online kepada temannya. “Mereka berkelompok, ibaratnya makan di satu piring yang sama. Menurut kepolisian pelaku kejahatan judi online ini memang orang lama dan jaringan yang sudah ada sebelumnya, namun hanya berubah bentuk saja,” ujar sumber itu.

Karakteristik utama judi online itu sifatnya hit and run. Jika satu situs tutup, maka akan berpindah ke domain baru. Bahkan jika bosnya tertangkap, maka tidak jarang anak buahnya yang melanjutkan dengan perintah dari dalam penjara.

Sekjen IDTUG (Indonesia Telecommunications Users Group) Muhamad Jumadi menilai nilai omset dari judi online yang mencapai ratusan juta rupiah memang menggiurkan. Tetapi hal itu bukan berarti tidak bisa diatur atau dikontrol. Oleh karena itu Kementrian Agama, Kementrian Kominfo dan Kepolisian harus menindak tegas judi online itu.

“Bukan hal susah sebenarnya untuk mengambil tindakan, sekarang tergantung niatnya,” tegasnya. Jumadi mengatakan judi online dilakukan secara terang-terangan menggunakan media internet dalam menjalankan bisnis haramnya.

Sedangkan yang terselubung dilakukan banyak content-provider nakal yang memanfaatkan medianya sebagai sarana judi lewat ponsel. “Berbagai situs judi dan reg-regan yang banyak beredar meresahkan, karena mereka menipu dan sifatnya ilegal, namun menggunakan jalur yang legal,” katanya.

Ia menambahkan masyarakat adalah yang paling dirugikan, jika secara tidak sengaja mendaftar di layanan itu dan tidak tahu aturannya. “Sudah seharusnya pemerintah dalam hal ini BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, Kemenkominfo dan MUI) menindaklanjuti berbagai fenomena yang sudah lama terjadi ini. Bahkan jika perlu MUI dimintakan fatwa untuk judi yang menggunakan media online ini,” tandasnya.

Ketua MUI KH A Cholil Ridwan menilai pemerintah masih kurang keras dalam memerangi judi dan pornografi di internet. Hal itu karena ribuan situs yang buruk bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat Indonesia.

Menurut penelitian, lanjutnya, Indonesia masuk dalam jumlah pengguna tertinggi untuk akses pornografi. “China saja bisa memblokir berbagai hal yang tidak sesuai dengan bangsanya, mengapa Indonesia tidak?” tanya Cholil.

Wakil Ketua ID-SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure ) M Salahuddin mengatakan Indonesia memiliki rekam jejak kejahatan online kedua tertinggi setelah pornografi.

Untuk judi online kebanyakan beroperasi dalam komunitas tertutup, dan menggunakan host di luar negeri baik server maupun main gateway-nya. “Amerika merupakan negara yang paling banyak digunakan sebagai host,” ujarnya.

Ia mengatakan kalau dilihat dari sisi penyelenggaraannya, situs judi online sifatnya resmi, kredibel dan transaksinya terjamin, namun tetap saja ilegal. Sementara situs judi online yang harus lebih dicermati, adalah yang berasal dari luar negeri karena selain menyelenggarakan judi juga menyebarkan malware atau program berbahaya. (inilah.com, 24/3/2010)

Bookmark and Share

Akibat Liberalisme: Anak Negeri ini Terancam Media Pornografi

Sabtu, 06 Maret 2010

Kegagalan ideologi kapitalisme yang bersandar pada sekularisme telah tampak dengan jelas. Merebaknya, perzinahan dan pergaulan bebas adalah salah satu kerusakkanya. Menjamurnya media berbau pornografi dibiarkan oleh penguasa. Korbannya tentu saja para generasi Muslim masa depan, anak-anak dan remaja.
Pakar Psikologi anak Elly Risman mengungkapkan, media elektronik dan media cetak yang sering diakses anak dan remaja banyak mengandung unsur pornografi.

"Media tersebut, di antaranya game, internet, telepon selular, televisi, VCD, komik, dan majalah," kata Elly Risman saat menjadi pembicara pada seminar "Mendidik Anak di Era Digital".

Ia mengatakan, sejumlah game yang beredar di pasaran dan menjadi pilihan utama anak, sebagian besar mengandung unsur pornografi.

"Padahal, semua ini orang tua tak pernah mengetahui dan peduli dengan jenis permainan yang dimainkan anak mereka," katanya.

Selain persoalan pornografi, katanya, kecanduan game juga berdampak negatif bagi prestasi akademiknya dan mengikis lutein pada retina mata. Bahkan kata dia, hasil survei Komnas Anak terhadap sekitar 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia pada tahun 2007, sebanyak 97 persen pernah menonton sesuatu yang berbau pornografi. Untuk itu, kata dia, orang tua perlu memantau aktivitas, pergaulan, dan perkembangan anaknya agar terhindar dari pornografi.

Elly mengatakan pornografi dapat merusak lima bagian otak, dibandingkan dengan danpak pemakaian kokain yang merusak tiga bagian otak manusia. “Orang tua harus mengenali ciri-ciri anak yang kecanduan pornografi,” katanya.

Ciri-ciri anak kecanduan pornografi, yakni mudah kehausan, sering buang air kecil, sering berkhayal, sulit konsentrasi, sering bermain play station dan internet dalam waktu yang lama, dan prestasi akademik menurun.

Alasan anak menjadi sasaran penyebaran pornografi, katanya, karena menjadi pasar masa depan, mental model pornografi, perpustakaan porno pada anak yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja.

“Pembuat pornografi juga menginginkan sasarannya mengalami kerusakan otak permanen,” katanya.Banyaknya kalangan anak remaja yang kecanduan pornografi, disebabkan karena sejumlah faktor.

Salah satunya, karena orang tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk anak, kurang tanggap dan gagap teknologi, serta pendidikan agama dan pengontrolannya masih kurang.

Selamatkan Generasi!

Demikianlah, telah tampak kerusakan akibat sekularisme yang dipaksakan di negeri ini mengancam generasi Muslim masa depan. Bahkan merebaknya hal-hal berbau pornografi, langsung atau tidak langsung dibiarkan atau bahkan dikondisikan oleh pemerintah.

Bagaimana tidak, iklan-iklan di televisi yang mengumbar aurat dibiarkan. Termasuk di dalamnya program kapitalisasi cabul melalui layanan komunikasi. Pemerintah juga memiliki program internetisasi sekolah, sementara di waktu yang sama belum sanggup menghentikan situs-situs yang berbau pornografi. Termasuk di dalamnya, perusahan-perusahaan penyedia jasa layanan internet.

Sekali lagi, inilah akibat sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan yang terjadi di negeri ini. Apakah hal tersebut kita biarkan saja? Tentu tidak, kita harus menyelamatkan generasi muda dengan syariah dan khilafah. Kaum Muslim harus bersatu padu membuang sekularisme kapitalisme dari benak kaum Muslim.

Para pemegang kebijakan pun para pelaku kerusakkan dituntut untuk bertanggung jawab atas terancamanya generasi muda masa depan dengan menghentikan semua ini. Jika tidak, yakin, Allah Swt. akan murka kepada penduduk negeri ini, dan azab-pun menanti, naudzubillahi mindzalik.
Sungguh kelak Allah Swt. membalasnya.

Semua akan berbeda, ketika Khilafah Rasyidah berdiri, maka anak-anak, remaja dan pemuda akan terlindungi dengan Islam. Di benak mereka, bukanlah hal yang berbau pornografi, tetapi di benaknya adalah kerinduan untuk meninggikan kalimah Allah Swt. Insya Allah, Khilafah tak akan lama lagi, segera berdiri kembali. [m/ant/syabab.com]

Bookmark and Share

"Seks" Kata Paling Dicari Anak-anak di Dunia Maya

Kamis, 25 Februari 2010

SINGAPURA--Berilah pengarahan seawal mungkin, atau Anda akan "kecolongan" dengan hobi Upik dan Buyung berlama-lama di depan internet. Berdasar survei terbaru yang didanai perusahaan software papan atas Symantec, "seks" adalah kata keempat terbanyak yang dicari anak-anak dan pra remaja di dunia maya.
Yang mengejutkan, kata "porn" ternyata juga menjadi kata keempat paling banyak dicari oleh anak-anak usia 7-9 tahun. Sedang bagi praremaja, kata-kata itu masuk dalam urutan ke-11 paling banyak dicari. "Fenomena di kalangan anak-anak usia 7 tahunan inilah yang mengejutkan kalangan psikolog," tulis harian Singapura The Straits Times.

Menurut mereka, paparan konten-konten seksual pada usia yang belum matang bisa merugikan secara mental bagi anak-anak. Selain itu, hal tersebut juga bisa mempengaruhi perkembangan psikologis dan persepsi anak-anak tentang seks di masa mendatang. "Yang lebih mengkhawatirkan lagi, mereka berusaha mencoba seperti apa yang ditontonnya di dunia maya," ujar psikolog Marcus Tan dari Healthway Medical Singapura.

Symantec melakukan penelitian itu sejak tahun lalu dan selesai Desember 2009. Mereka meneliti 14,6 juta situs pencarian di seluruh dunia termasuk YouTube, Google, Wikipedia dan situs lain yang tersaring layanan fitler OnlineFamily.Norton.
Sedangkan Yum Sin Ting dari Ang Mo Kio Family Service Centres’ Youth Infinity, menganalisa mengapa porn dan seks menjadi kata paling dicari anak-anak. "Banyak anak-anak yang tidak nyaman berdiskusi tentang masalah seksual dengan orang tua atau guru mereka," ujarnya.

Ia menyarankan agar para orang tua memposisikan diri sebagai sahabat anak, tempat mereka mendiskusikan banyak hal tanpa sungkan. "Jangan biarkan internet menjadi sahabatnya untuk menjelaskan soal-soal peka seperti masalah seks dan sebagainya," ujarnya. (Republika.co.id)

Bookmark and Share

Pengaruh Buruk Tayangan TV Bagi Anak-Anak

Kamis, 18 Februari 2010


Siaran televisi mempunyai dampak sangat besar dalam kehidupan manusia. Sering kali apa yang ditayangkan dalam kotak ajaib itu memancing hasrat penonton untuk ikut melakukannya. Simak saja bagaimana siaran televisi mampu membentuk budaya massa di berbagai belahan dunia.

Irlandia
Gara-gara serial Sex and the City, sekarang penduduk di sana lebih menggemari minum vodka ketimbang whiskey.


Brasil
Saat ini terjadi penurunan angka kelahiran di negara pengekspor telenovela ini. Data statistik menunjukkan, angka kelahiran di negara ini turun menjadi 2,3 anak per wanita dari angka sebelumnya, 6,3. Konon, penurunan tersebut terjadi karena kebanyakan cerita telenovela menampilkan sosok keluarga kecil.

Israel
Serial In Treatment yang ditayangkan di HBO menyebabkan tren baru di negara ini: mengikuti sesi terapi.

Amerika Serikat
Penduduk AS yang sering menonton tayangan tentang operasi plastik ditengarai tertarik untuk melakukan hal yang sama.

China
Media lokal di sana menyebutkan, serial Friends membuat orang-orang muda di China meniru gaya hidup para tokoh dalam serial terkenal itu. Salah satunya dengan menempati apartemen berdekatan dengan teman-temannya.

Butan
Pemerintah di negara yang memiliki slogan Gross National Happiness ini melarang siaran MTV dan World Wrestling Entertainment karena alasan meningkatnya tindakan kekerasan di kalangan anak-anak.

Indonesia
Hasil penelitian LIPI menyebutkan, dampak tayangan pornografi di televisi menyebabkan meningkatnya kasus kehamilan tidak dikehendaki di kalangan remaja, kekerasan seksual, bahkan aborsi. Demikian juga dampak tayangan berbau kekerasan. Salah satunya adalah maraknya aksi para bocah polos yang meniru gerakan para pegulat smackdown beberapa waktu lalu.AN/kmps

Bookmark and Share

TV Bisa Membuat Anak Lambat Berbicara

Minggu, 31 Januari 2010

LONDON–Bila ada hal yang patut disalahkan atas lambatnya kemampuan berbicara si kecil adalah tayangan televisi. Sayangnya, orangtua juga turut berperan sebagai penyebab lambatnya kemampuan berbicara si kecil.
Sebuah riset yang diterbitkan di Inggris, baru-baru ini mengungkapkan 1 dari 4 anak laki-laki, dan 1 dari 7 anak perempuan memiliki masalah dalam hal kemampuan berbicaranya, dan diperkirakan sekitar 4 persen dari jumlah anak yang berusia 3 tahun belum bisa berbicara.
Para peneliti di Inggris menyimpulkan keterlambatan anak berbicara ini turut dipengaruhi oleh faktor keluarga yang sering mengajaknya menonton televisi secara terus menerus. Kerasnya, suara televisi membuat anak kecil sulit memahami bahasa orang dewasa di sekitarnya.
Riset yang diketuai, Jean Gross mencatat. 3 persen dari bayi yang ada memiliki masalah kesulitan bicara yang signifikan. Anak-anak ini berusaha berjuang untuk mengerti kata apa yang diucapkan oleh orangtua atau kakaknya ketika ada suara televisi yang ikut terdengar, meskipun sebenarnya anak tersebut tidak ikut menonton televisi.
“Otak seseorang tidak meningkatkan pembelajaran dari mesin. Tapi bayi atau anak yang masih kecil akan mempelajari mimik wajah dan suara yang didengarnya dari orang-orang disekitar,” ujar Jean Gross, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (5/1)
Riset yang melibatkan 1.000 orangtua, ditemukan sekitar 22 persen anak laki-laki dan 13 persen anak perempuan mengalami kesulitan berbicara dan memahami pembicaraan orang lain. Tak hanya itu, diketahui sekitar 25 persen dari keluarga itu menghabiskan sebagian besar waktu atau sepanjang hari berada di depan televisi.
Padahal, anak-anak mengucapkan kata-kata pertamanya saat memasuki usia 10-11 bulan dan sudah mulai lancar berbicara saat berusia 3 tahun, nyatanya anak-anak yang sering menonton televisi mengalami keterlambatan.
Hal ini diperparah dengan 1 dari 10 anak-anak memiliki televisi di dalam kamar tidurnya.”Proporsi anak yang mengalami kesulitan berbicara dan memahami percakapan orang lain lebih banyak terjadi pada anak laki-laki, meskipun belum dapat diketahui mengapa bisa demikian,” tambahnya.
Dia menggaris bawahi, waktu yang penting untuk bayi belajar berbicara terjadi selama 3 tahun pertama kehidupannya. Pasalnya, saat itu otak bayi sedang berkembang pesat.
Bayi pada usia itu akan mudah mengerti apa yang dibicarakan oleh orangtuanya meski belum bisa mengucapkannya dengan baik. Maka jika anak terlalu sering menonton televisi, dirinya tidak akan belajar komunikasi dua arah. cr2/rin
republika.co.id

Sinetron Kebanyakan Tidak Mendidik

Senin, 21 Desember 2009



JAMBI--Anggota Komisi VIII DPR-RI Ratu Manawwaroh Zulkifli, Jumat, menilai banyak sinetron televisi tidak layak tonton karena tidak mendidik, terutama terhadap anak-anak.

"Kendati diminati pemirsa, banyak sinetron itu tidak layak menjadi tontonan, terutama bagi anak-anak," kata anggota DPR-RI dari PAN daerah pemilihan Jambi itu ketika berkunjung ke lembaga pemasyarakatan (Lapas) Anak Sungai Buluh, Kabupaten Batanghari, Jambi.

Dia mengatakan, tontonan televisi menjadi salah satu pemicu munculnya kejahatan yang dilakukan anak-anak. Ia mengaku sudah berulangkali mengimbau ibu-ibu untuk melarang anak-anaknya menonton sinetron, karena dampaknya sangat besar terhadap perkembangan dan sifat anak.

Ratu mengaku mengantogi data yang menyebutkan menonton sinetron di televisi 80 persen berberdampak negatif, baik berupa kekerasan, pornografi dan lainnya.

"Dari angka tersebut, menunjukkan, sebagian besar sinetron memang tidak layak tonton. Pemerintah melalui instansi terkait seharusnya tegas menyeleksi sinetron yang boleh tayang," tegasnya.

Ia menyesalkan selama ini pemerintah tidak berupaya menyeleksi kelayakan sinetron yang akan ditayangkan stasiun televisi. ant/ahi; By Republika Newsroom
Sabtu, 19 Desember 2009 pukul 05:16:00

Pornografi dan Kekerasan Naruto: Favorit Bagi Anak-Anak

Minggu, 13 Desember 2009


Sekarang, ini anak-anak mana yang tak mengenal Naruto? Tokoh komik dan film animasi ini (bahasa Jepangnya manga dan anime) sangat populer di kalangan anak-anak. Mereka menggandrunginya, seperti halnya Shinchan beberapa waktu lalu.
Namun sama seperti Shincan—dan notabene film dan novel asal Jepang lainnya, Naruto mengandung banyak sekali muatan pornografi dan kekerasan.
Jika situasi adegan menjadi benar-benar panas, para karakter di seri Naruto tidak jarang mengatakan “Damn!” (sialan, brengsek) dan “Bastard” (bajingan). Kedua kata ini memiliki makna yang kasar dalam bahasa Inggris.
Kekerasan mungkin yang paling kuat tentang Naruto. Menimbang bahwa Naruto adalah sesuatu yang diperuntukkan bagi anak-anak, jumlah kekerasannya sangat mengejutkan. Walau memang seri Naruto bercerita tentang Ninja, sehingga ada penggunaan seni bela diri kiri dan kanan, namun tingkat kekerasannya sangat melimpah. Ada banyak perkelahian dengan senjata tajam, dan banyak darah. Perkelahian itu bahkan menakutkan, dan cukup intens. Jelas bukan sesuatu yang sehat untuk anak-anak.
Sedangkan adegan-adegan porno Naruto misalnya, dalam film kartun tersebut ada adegan Naruto sedang minum minuman keras, dikelilingi lima perempuan setengah telanjang. Lalu, Naruto yang sedang mabuk berkata; "Serasa di surga." Kartun Naruto juga memuat adegan berciuman dan adegan ranjang. Dalam Naruto juga ada adegan ia tengah mandi dengan seorang perempuan seksi dengan hanya mengenakan baju mandi yang sangat mengundang.Yang memprihatinkan, komik Naruto menempati urutan teratas yang dikonsumsi anak-anak.
Jadi, hati-hati jika membiarkan anak Anda menonton atau membaca Naruto. Lebih baik, pikirkan seribu kali sebelum mengizinkan mereka mengonsumsinya. (sa/berbagaisumber) Eramuslim.com 26/10/2009 20.39 wib

Nonton TV Membuat Anak Lebih Agresif

Jumat, 11 Desember 2009


Menonton televisi yang berlebihan pada anak bisa menimbulkan berbagai dampak buruk dari sisi psikologis dan kesehatan. Dikhawatirkan hal itu juga memicu seks dini ketika menginjak remaja.
Beberapa peneliti Amerika Serikat telah menemukan, menonton televisi mempengaruhi perilaku anak kecil yang baru belajar jalan, makin sering mereka menonton televisi, makin agresif perilaku mereka. Untuk studi tersebut, para peneliti di State University of New York mengumpulkan data dari rumah dan melalui telefon mengenai 3.128 anak yang dilahirkan antara 1998 dan 2000.

Anak-anak itu berasal dari 20 kota besar di AS, dan ibu mereka menyelesaikan jajak pendapat ketika anak anak tersebut dilahirkan, lalu mengisi lagi saat anak mereka berusia satu tahun dan tiga tahun.

Studi itu mendapati bahwa nonton TV secara langsung oleh anak kecil atau papranan (exposure) untuk secara tak langsung menonton televisi di dalam rumah, keduanya berkaitan dengan sikap agresif pada anak yang masih sangat muda.

"Untuk setiap jam seorang anak menonton TV secara langsung, sifat agresif naik 0,16 pada skala nol sampai 30. Buat setiap TV yang dinyalakan di dalam rumah, kenaikannya adalah 0.09," kata pemimpin studi tersebut Jennifer A. Manganello, asisten profesor komunikasi kesehatan di University of Albany School of Public Health, State University, New York, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi China, Xinhua.

Para peneliti itu akhirnya menyimpulkan setelah memantau data mengenai berbagai faktor lain, seperti depresi yang dialami ibunya, tinggal di permukiman yang tidak aman dan dipukuli. "TV lebih mungkin, dibandingkan dengan faktor lain, untuk meningkatkan prilaku agresif," kata Mangenello.

"Pesan yang diperoleh dari studi ini ialah orang-tua bukan hanya memikirkan mengenai berapa lama anak boleh nonton TV, tapi juga memikirkan lingkungan media tersebut secara keseluruhan di dalam rumah," kata Manganello.

Penelitian itu disiarkan di dalam Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, terbitan November. "Paparan terhadap kekerasan di media, termasuk televisi, film, musik dan permainan video, merupakan resiko penting bagi kesehatan anak dan remaja," kata American Academy of Pediatrics (AAP).

"Bukti penelitian luas menunjukkan bahwa kekerasan di media dapat memberi sumbangan bagi prilaku agresif, berkurangnya kepekaan terhadap kekerasan, mimpi buruk dan takut dicelakai," tulis Dewan Komunikasi dan Media AAP. ant/rin,By Republika Newsroom
Rabu, 04 November 2009 pukul 16:02:00

Testimoni