Insan Kamil official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

** Dilarang Meniup Makanan dan Minuman

Kamis, 30 Mei 2013


Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan larangan meniup makanan atau minuman. Diantaranya,
1. Hadis dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ، وَإِذَا أَتَى الخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ…
Apabila kalian minum, janganlah bernafas di dalam gelas, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan… (HR. Bukhari 153).
2. Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas. (HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Mengapa dilarang ditiup?

An-Nawawi mengatakan,
والنهي عن التنفس في الإناء هو من طريق الأدب مخافة من تقذيره ونتنه وسقوط شئ من الفم والأنف فيه ونحو ذلك
Larangan bernafas di dalam gelas ketika minum termasuk adab. Karena dikhawatirkan akan mengotori air minum atau ada sesuatu yang jatuh dari mulut atau dari hidung atau semacamnya. (Syarh Shahih Muslim, 3/160)
Hal yang sama juga disampaikan Ibnul Qoyim,
وأما النفخ في الشراب فإنه يكسبه من فم النافخ رائحة كريهة يعاف لأجلها ولا سيما إن كان متغير الفم وبالجملة : فأنفاس النافخ تخالطه ولهذا جمع رسول الله صلى الله عليه و سلم بين النهي عن التنفس في الإناء والنفخ فيه
Meniup minuman bisa menyebabkan air itu terkena bau yang tidak sedap dari mulup orang yang meniup. Sehingga membuat air itu menjijikkan untuk diminum. Terutama ketika terjadi bau mulut. Kesimpulannya, nafas orang yang meniup akan bercampur dengan minuman itu. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan larangan bernafas di dalam gelas dengan meniup isi gelas. (Zadul Ma’ad, 4/215).

Bolehkah Menggunakan Kipas Angin?

Memperhatikan alasan yang disampaikan oleh An-Nawawi dan Ibnul Qoyim tentang mengapa kita dilarang meniup makanan, bisa kita simpulkan bahwa menggunakan kipas dalam hal ini dibolehkan. Dengan syarat, kipas yang digunakan bukan kipas yang berdebu, yang kotor, sehingga justru menyebarkan penyakit pada makanan atau minuman.
Allahu a’lam

Sebuah Renungan di Atas Kesibukan Para Orangtua

Kamis, 21 Maret 2013


Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka
di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya,
Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD yang membukakan
pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya Imron
memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat
ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Papa? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan
dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.
Sabtu dan minggu libur, kadang sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.
Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.
“Kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam
Papa digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.

Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,
Imron kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp.5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah. “
“Tapi Papa…”

Kesabaran Rudi habis.”Papa bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron.
Anak kecil itu pun berbalik menuju, kamarnya.
Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron
di kamar tidurnya.

Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,
“Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih.”
“Papa, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan
kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”
“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja, mama sering bilang kalau waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-.
Tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam aku harus ganti Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,- Makanya aku mau pinjam dari Papa,” kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya. Sumber

** Jangan Salah Pilih Sekolah untuk Anak

Kamis, 14 Februari 2013


Tahun ajaran baru masih akan dimulai beberapa bulan lagi. Namun, kesibukan memilih sekolah yang tepat untuk anak sudah dimulai bahkan sejak bulan November tahun lalu. Open house sekolah untuk menarik minat orangtua dan anak bergantian digelar setiap pekan.

Anda sebagai orangtua tentu juga tak ingin sembarangan mencari sekolah untuk sang buah hati. Pasalnya, memilih sekolah yang tepat, terutama taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD), merupakan “investasi jangka panjang” bagi masa depan anak-anak.

Berbagai pilihan pun disuguhkan di depan mata. Kali ini, pilihan tak cuma soal biaya dan jarak tempuh seperti yang dilakukan orangtua kita dulu saat kita kecil. Di kota-kota besar, pilihan tak sesederhana itu lagi meski keduanya juga tetap menjadi faktor pertimbangan utama.

Anda tak lagi hanya mendengar nama sekolah negeri dan sekolah swasta. Kita kian sering mendengar ragam sekolah, seperti sekolah unggulan, sekolah internasional, sekolah berbasis agama, sekolah dengan asrama, sekolah alam, sekolah bilingual, atau kombinasi antara dua dan tiga kategori ini. Lantas, mana yang harus dipilih?

Psikolog dan pengamat pendidikan anak, Seto Mulyadi, mengatakan bahwa saat ini muncul berbagai macam sekolah dengan metode pengajaran yang beragam pula. Ini membuat pertimbangan orangtua untuk memilih sekolah tidak lagi sederhana.

Pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini mengatakan, ragam sekolah yang muncul sebenarnya bermaksud mencoba menjawab harapan orangtua yang tidak terpenuhi dari sekolah publik yang sudah ada sebelumnya. Pada umumnya, sekolah-sekolah alternatif baru itu menawarkan konsep yang sama, yaitu mengedepankan kemampuan verbal anak dan mengasah kreatifitas anak.

Namun, Kak Seto mengingatkan untuk tidak teriming-imingi promosi program unggulan ini dan itu di suatu sekolah. Menurutnya, di tengah tawaran-tawaran yang menggiurkan, orangtua harus memegang prinsip ini dalam mengambil keputusan.

“Para orang tua harus memilih sekolah untuk anak, bukan anak untuk sekolah. Ini yang utama dan penting bagi orang tua,” kata Kak Seto kepada Kompas.com, Sabtu (12/1/2013).

Kak Seto mengatakan, orangtua bisa menekan kemungkinan dampak anak menjadi enggan bersekolah atau school-phobia. Kenali kebutuhan anak Anda dan carilah sekolah yang membuat anak bisa belajar dengan menyenangkan dan tidak stres. Anak pun perlu dilibatkan dalam mencari sekolah.

Selain itu, jangan paksakan anak bersekolah bila belum cukup umur. Seperti dikatakan psikolog anak, Roslina Verauli, pertimbangkan usia dalam memutuskan anak sudah perlu pendidikan formal atau belum.

Anda mungkin melihat anak sudah lebih cerdas daripada anak seusianya sehingga merasa perlu menyekolahkannya. Namun, bisa jadi itu bukan pertimbangan yang baik untuk masa depannya. Sumber

***‘Sekolah Utama’**

Al-Ummu madrasah al-ula (Ibu adalah sekolah pertama [bagi anak-anaknya]). Kata-kata hikmah ini sudah lama kita dengar. Bukan hanya ‘sekolah pertama’, ibu sejatinya adalah ‘sekolah utama’ bagi putra-putrinya. Jika ada seseorang menjadi ulama, ilmuwan, tokoh ternama, atau pahlawan ksatria, maka lihatlah ibu mereka. Tentu karena ibu berperan besar dalam membentuk watak, karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ia adalah sekolah pertama dan utama sebelum si kecil mengenyam pendidikan di sekolah mana pun.

Layaknya sekolah, ibu sejatinya adalah ‘gudang ilmu’, ‘pusat peradaban’ dan ‘wadah’ yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia. Hanya dari ‘sekolah’ semacam inilah lahir anak-anak yang shalih, cerdas, alim, berakhlak mulia, memiliki semangat jihad yang tinggi dan seluruh sifat-sifat agung Mukmin bertakwa. Pertanyaannya, sudahkah para ibu menjadi sekolah pertama dan utama; sebagai ‘gudang ilmu’, ‘pusat peradaban’, dan ‘wadah’ yang menghimpun seluruh sifat akhlak mulia? Jika belum, jangan harap dari mereka lahir anak-anak hebat; generasi Muslim istimewa dengan seluruh sifat kemuliaannya.
*****
Salah satu wanita yang tercatat dalam sejarah sebagai ‘gudang ilmu’, ‘pusat peradaban’ dan ‘wadah’ yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia adalah Ummu Sulaim ra. Ia adalah Ibunda Anas bin Malik ra.. Anas ra. pernah berkisah, sebagaimana dituturkan oleh Adz-Dzahabi: Suatu ketika Nabi saw. berkunjung ke rumah Ummu Sulaim ra. Nabi saw. menuju salah satu sisi rumahku, kemudian shalat sunnah dua rakaat dan mendoakan Ummu Sulaim ra. dan keluarganya. Lalu ibuku berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, aku memiliki hadiah khusus untukmu.” Beliau bertanya, “Apa itu?” Ibuku menjawab, “Orang yang siap membantu engkau. Dia Anas, anakku.” Seketika Rasulullah saw. memanjatkan doa-doa untukku hingga tak tersisa satu pun dari kebaikan dunia dan akhirat melainkan beliau doakan bagiku.
Alangkah besar kecintaan Ummu Sulaim ra. kepada Rasulullah saw. hingga ia rela menghadiahkan buah hatinya yang baru berumur delapan tahun kepada beliau.
*****
Ummu Sulaim ra. termasuk wanita yang cemerlang akalnya. Ia juga penyabar dan pemberani. Ketiga sifat mulia inilah yang menurun kepada Anas ra. dan mewarnai perangainya.
Kecerdasan Ummu Sulaim ra. tampak, misalnya, saat ia hendak dilamar Abu Thalhah setelah suami pertamanya meninggal. Saat meminang dirinya, Abu Thalhah masih dalam keadaan musyrik. Karena itu Ummu Sulaim menolak pinangan Abu Thalhah sampai dia mau masuk Islam. “Sungguh tidak pantas seorang musyrik menikahi aku. Tidakkah engkau tahu, hai Abu Thalhah, bahwa berhala-berhala sesembahanmu itu dipahat oleh budak dari suku anu,” sindir Ummu Sulaim. “Jika kau sulut dengan api, ia akan terbakar,” lanjutnya lagi.
Abu Thalhah pun berpaling dari rumah Ummu Sulaim ra. Akan tetapi, kata-kata Ummu Sulaim ra. tadi amat membekas di hatinya. “Benar juga,” gumamnya. Tak lama kemudian, Abu Thalhah menyatakan keislamannya. “Aku telah menerima agama yang kau tawarkan,” kata Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim ra. Lalu berlangsunglah pernikahan mereka berdua. “Ummu Sulaim tidak meminta mahar apapun selain keislaman Abu Thalhah,” kata Anas ra. dalam suatu riwayat.
Adapun ketabahan Ummu Sulaim ra. tampak saat salah seorang putranya kesayangannya meninggal. Nama putranya itu adalah Abu Umair. Abu Umair tidak berumur panjang. Ia dipanggil oleh Allah ketika masih kanak-kanak. Anas ra. bercerita:
Suatu ketika Abu Umair sakit parah tatkala azan isya berkumandang. Seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke masjid. Dalam perjalanan ke masjid, Abu Umair dipanggil oleh Allah. Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani jenazah anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. Ia berpesan kepada Anas agar tidak memberi tahu Abu Thalhah tentang kematian putra kesayangannya itu. Kemudian ia pun menyiapkan hidangan makan malam untuk suaminya.
Sepulangnya dari masjid, seperti biasa Abu Thalhah ra. menyantap makan malamnya memudian menggauli istrinya. Di penghujung malam, Ummu Sulaim ra. berkata kepada suaminya, “Bagaimana menurutmu keluarga si fulan? Mereka meminjam sesuatu dari orang lain, tetapi ketika diminta mereka tidak mau mengembalikannya; merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.” Jawab Abu Thalhah, “Tentu mereka telah berlaku tidak adil.”. Ummu Sulaim ra. berkata lirih, “Ketahuilah, sesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah dan kini Allah telah mengambilnya kembali.” Jawab Abu Thalhah, “Inna lilLahi wa inna ilayhi raji’un.” Ia tampak pasrah.
Bagaimana dengan keberanian Ummu Sulaim ra.? Anas ra. menceritakan bahwa suatu ketika ayahnya, Abu Thalhah, berpapasan dengan Ummu Sulaim ketika Perang Hunain. Abu Thalhah melihat di tangan Ummu Sulaim ada sebilah pisau. Abu Thalhah segera melaporkan hal itu kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, lihatlah Ummu Sulaim keluar rumah sambil membawa pisau,” kata Abu Thalhah.  Ummu Sulaim ra. berkata, “Ya Rasulullah, pisau ini sengaja kusiapkan untuk merobek perut orang musyrik yang berani mendekati aku.”
*****
Ummu Sulaim ra., sosok agung inilah yang melahirkan Anas bin Malik, salah satu dari tujuh sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Anas bin Malik ra. bahkan telah banyak ‘meluluskan’ ulama-ulama hebat dalam sejarah.  Tidak aneh karena Anas adalah seorang mufti, qari’, muhaddits dan perawi. Anas bin Malik ra. banyak mencetak sejumlah ulama dan orang-orang penting di antaranya adalah Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Asy Sya’bi, Abu Kilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Tsabit al-Banani, Bakar bin Abdillah al-Mazani, az-Zuhri, Qatadah, Ibn al-Munkadir, dan masih banyak nama lainnya.
Jangan lupa, kehebatan dan keagungan Anas bin Malik ra. hingga melahirkan banyak tokoh Islam salah satunya karena keberhasilan ibundanya, Ummu Sulaim ra., dalam memerankan ‘sekolah pertama dan utama’ bagi putra kesayangannya itu sejak ia masih kanak-kanak. Bagaimana dengan para ibu Muslimah saat ini?
Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib. Sumber

Testimoni