Insan Kamil official website | Members area : Register | Sign in

Archives

* Ini Buktinya, Anak Makin Berprestasi Berkat Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

Selasa, 22 Desember 2015



Fotosearch



Sejumlah riset dan studi menunjukkan, keterlibatan Anda para ayah dalam mengasuh anak sangat penting dan dapat memberikan kontribusi positif bagi anak dalam kehidupannya kelak. Berikut ini beberapa hal yang akan dimiliki anak saat Anda ikut andil dalam mengasuhnya.

1. Lebih percaya diri
Saat bermain dengan anak, Anda kan lebih senang mengajak anak melakukan aktivitas fisik seperti berlari, melompat, melempar, atau memanjat. Menurut Melanie Horn-Mallers Ph.D, profesor di California State University, Fullerton, AS dan pakar mengenai studi keluarga, aktivitas ini bisa membuat anak lebih percaya diri. Soalnya Anda akan mendorong ayunan lebih kencang atau menyemangati anak untuk berani meluncur dari tempat yang tinggi. Ketika berhasil melakukannya, si kecil tentunya akan semakin pede. Seolah Anda ingin mengatakan, “Nak, dunia ini adalah tempat yang aman. Jadi mari menjelajahinya dan percayalah dengan kemampuanmu.”

2. Lebih pintar
Penelitian yang dilakukan oleh University of Guelph, Ontario, Kanada, pada tahun 2007 yang berjudul The Effects of Father Involvement: An Updated Research Summary of the Evidence, bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini,  memiliki kemampuan kognitif lebih baik ketika memasuki usia enam bulan hingga satu tahun. Selain itu, mereka juga memiliki IQ lebih tinggi ketika menginjak usia tiga tahun dan berkembang menjadi individu yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih baik.

3. Berani mengambil risiko
Ketika mengasuh anak, ibu cenderung khawatir dengan keselamatan anak. Sebaliknya Anda mendorong anak untuk berani mengambil risiko. Psikolog Daniel Paquette dari University of Montreal, Montreal, Kanada, dalam studinya berjudul Theorizing the Father-Child Relationship: Mechanisms and Developmental Outcomes, menemukan fakta bahwa saat bermain dengan anak, ayah akan berusaha mendorong anak untuk mampu mengatasi hambatan dan berbicara dengan orang asing. Saat berenang misalnya, Anda akan menyemangati anak untuk bisa menyelam lebih dalam.

4. Pandai bergaul
Dari riset terhadap 192 bayi yang dimuat dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry, Dr. Paul Ramchandani, psikiater anak dari University of Oxford, Inggris, menemukan, bayi yang memiliki bonding yang baik dengan ayahnya selama 3 bulan pertama kehidupannya, terbukti setelah bersekolah akan menjadi anak yang pandai bergaul, populer di antara teman-temannya, dan jarang memiliki masalah dengan teman-temannya. Begitu juga setelah dewasa dan bekerja, mereka tumbuh menjadi pribadi yang bahagia.

5. Lebih disiplin
Ayah merupakan sosok yang tegas. Karena itu, saat mengasuh anak, Anda juga berusaha membuat anak disiplin dengan cara yang lebih tegas. Dalam bukunya yang berjudul Partnership Parenting, Dr. Kyle D. Pruett M.D., psikiater anak dan profesor di Yale University, AS, serta Marsha Kline Pruett, menulis, ayah lebih tegas daripada ibu dalam menghadapi anak dan menegakkan disiplin. Ibu, di sisi lain, lebih mengandalkan ikatan emosional untuk mengubah perilaku anak. Pendekatan yang beragam dari Anda dan istri ini terbukti sangat efektif dalam mendisiplinkan anak.

6. Berani mencoba hal baru
Ketika bermain dengan anak, ayah tidak sekadar menghibur si kecil. Berbeda dengan ibu yang cenderung selalu memberikan rasa aman dan melindungi saat mengasuh anak, menurut Norma L. Radin, pakar perkembangan anak dan profesor di University of Michigan, AS, ayah mengajak anak untuk berani berinteraksi dengan dunia di sekitarnya dan dengan orang lain. Anda juga mendorong anak untuk dapat mengeksplorasi kekuatannya sendiri dan berani mencoba hal-hal baru, tentunya tetap dalam pengawasan Anda.

7. Lebih toleran dan pengertian
Menurut Dr. Howard Dubowitz, MD, ahli pediatri di University of Maryland Medical Center, Baltimore, AS, dalam artikelnya Father Involvement and Children’s Functioning at Age 6 years: A Multisite Study, anak perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan ayahnya memiliki kenyamanan diri lebih tinggi dan lebih sedikit merasa depresi. Sedangkan anak laki-laki yang diasuh dengan keterlibatan ayah akan lebih mengenal dunia pria. Ia akan lebih sedikit merasa agresif, impulsif, dan tidak egois. Pada saat dewasa kelak, mereka akan menjadi orang yang lebih toleran dan pengertian.

8. Lebih aktif
Kegiatan yang biasa dilakukan ayah dengan anak misalnya mencuci mobil, belajar naik sepeda, atau, bermain bola. Aktivitas itu membuat anak terhindar dari kegemukan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013, 18,8% anak berusia 5-12 tahun mengalami masalah kegemukan, dengan perincian kategori gemuk 10% dan sangat gemuk 8,8%.

9. Lebih kreatif
Saat bersama anak, ayah akan mengisinya dengan aktivitas yang ‘liar’, membuat mobil-mobilan dari kardus bekas, menggunakan sarung bermain Ninja atau membaca dongeng dengan beragam ekspresi wajah. Pokoknya, kreativitas ayah beda dengan ibu.  Menurut Mark Runco, Ph.D, Direktur Torrance Center for Creativity & Talent Development di University of Georgia, AS, semua anak memiliki potensi untuk menjadi kreatif dan tugas orangtua untuk mewujudkannya. Anda ikut serta mengembangkannya.

10. Lebih Spontan
Saat akan pergi berkemah, misalnya, seorang ibu akan menyiapkan bekal makanan. Sementara ayah lebih suka bereksperimen secara spontan untuk memasak menggunakan api unggun. Bagi Anda, yang terpenting adalah anak mendapat pengalaman baru dan belajar menghadapi risiko. Karena itu, menurut Howard Steele, Direktur Attachment Research Center Unit dari University College London, Inggris, cara itu membuat anak lebih berani untuk mengutarakan pendapat dan lebih spontan dalam bertindak. (SAN/MON) Sumber

** Adab Makan: Makan Sekadarnya

Selasa, 22 April 2014


الْمِقْدَامَ بْنَ مَعْدِيكَرِبَ الْكِنْدِىَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُولُ « مَا مَلَأَ اِبْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ ابْنِ آدَمَ أُكُلاَتٌ (و اللَّفْظُ لِإِبْنِ مَاجَه”لُقَيْمَاتٌ”) يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثُ طَعَامٍ وَثُلُثُ شَرَابٍ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ »
Al-Miqdam bin Ma’dikarib al-Kindi berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,  “Tidaklah seorang anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah anak Adam makanan (dalam redaksi Ibn Majah “suapan-suapan kecil”) yang menegakkan tulang punggungnya.  Jika harus lebih dari itu maka sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga udara.” (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, Ibn Hibban dan al-Hakim).

Hadis ini dicantumkan oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, hadis ke-47, melengkapi Arba’un an-Nawawiyah menjadi 50 hadis.  At-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini di dalam as-Sunan pada bab Mâ Jâ’a fî Karâhiyati Katsrah al-Akli (Riwayat Tentang Kemakruhan Banyak Makan). At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan shahih.”
Ibn Majah meriwayatkan hadis ini dalam as-Sunan pada bab al-Iqtishâd fî al-Akli wa Karâhiyati asy-Syiba’ (Sederhana dalam Makan dan Kemakruhan Kenyang).

Hadis ini merupakan salah satu pokok adab dalam makan.  Hadis ini secara garis besar memberikan tiga pelajaran Pertama: Rasul saw. menyatakan, “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut.”  Rasul saw menyerupakan perut sebagai wi’â’un, yaitu tempat meletakkan sesuatu. Seburuk-buruk wadah yang dipenuhi adalah perut. Sebab dalam hal itu ada at-tukhmah (pencernaan yang buruk) dan menjadi sebab terjadinya bermacam penyakit; juga karena mewariskan kemalasan, lemah dan ingin rehat terus.  Pengarang Barîqah Mahmûdiyyah fî Syarh Tharîqah Muhammadiyyah wa Syarî’ah Nabawiyyah menjelaskan, “Rasul menjadikan perut seburuk-buruk wadah sebab sering digunakan pada yang tidak seharusnya untuknya.  Perut diciptakan untuk menguatkan punggung dengan makanan, sementara memenuhi perut akan menyebabkan kerusakan agama dan dunia sehingga menjadi keburukan.  Kenyang itu (bisa) menyimpangkan dari kebenaran, didominasi oleh kemalasan sehingga menghalangi pemiliknya dari beribadah, memperbanyak materi-materi yang lebih, banyak kemarahan,  syahwatnya  dan ambisinya meningkat sehingga menjerumuskan dirinya mencari apa yang melebihi kebutuhan.”

Kedua, Rasul saw. menyatakan, “Cukuplah untuk anak Adam sekadar makanan yang menegakkan tulang punggungnya.”  Penyebutan tulang punggung menggunakan uslub menyebut sebagian yang dimaksudkan keseluruhan.  Jadi, yang dimaksudkan adalah punggung seluruhnya, atau lebih umum lagi seluruh badan, sebab punggung adalah penopang badan.

Dalam hadis ini, Rasul saw. menganjurkan untuk sedikit makan, yakni makan sekadarnya saja untuk bisa menopang badan agar tetap bisa tegak dan melakukan aktivitas yang diperintahkan syariah.  Anjuran ini juga tampak dalam redaksi Ibn Majah yang menggunakan kata “luqaymât” yang merupakan kata plural dengan bentuk isim tashghîr dari luqmatun.  Makna sabda Rasul saw. itu, bahwa cukuplah untuk anak Adam makanan yang dengan itu ia tetap hidup sehat untuk menjalankan aktivitas ketaatan. Itulah makna sabda beliau “yuqimna shulbahu (menegakkan tulang punggungnya).” Yang demikian itu merupakan dorongan agar sedikit makan dan tidak banyak makan Dengan begitu manusia itu ringan, tangkas, giat dan selamat dari bermacam penyakit yang muncul dari banyak makan.

Ketiga: Rasul saw menyatakan, “Jika harus lebih dari itu maka sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga untuk udara.”  Maksudnya, jika orang tidak cukup dengan makanan yang cukup menegakkan punggungnya dan harus tambah dari kadar itu maka hendaklah ia mengisi sepertiga perutnya dengan makanan, sepertiganya dengan minuman dan sepertiganya untuk udara yang memungkinkan dirinya bernafas dengan mudah.

Kenyang hukumnya mubah.  Dalam beberapa riwayat, Rasul saw. pernah makan hingga kenyang dan membiarkan para sahabat makan hingga kenyang.  Namun, bagi Rasul saw. dan para sahabat, kenyang tidak menjadi kebiasaan.  Mereka sering tidak sampai kenyang, meski juga tidak kelaparan.
Anjuran Rasul saw. dalam hadis ini ada dua tingkat: (1) agar makan sekadarnya saja yang membuat punggung tetap tegak, sanggup bahkan giat menjalankan aktivitas dan ketaatan serta ibadah; (2)  jika ingin lebih dari itu maka hendaklah makanan hanya mengisi sepertiga perut, minuman sepertiganya dan sepertiga lainnya untuk udara. Kadar ini tidak sampai kenyang apalagi kekenyangan. Seperti itulah yang menjadi laku para sahabat dan para ulama panutan umat.

Manfaat dari anjuran Rasul saw. ini sangat besar terhadap fisik dan hati.  Terhadap fisik, pola makan seperti itu menyehatkan.  Terhadap hati, hal itu akan membuat hati baik.  Sedikit makan melembutkan hati, menguatkan pemahaman, melemahkan hawa nafsu dan amarah.  Sebaliknya, banyak makan mendatangkan hal kebalikannya.

Rasul saw., keluarga beliau, para sahabat dan para ulama memberikan contoh hidup bagaimana mereka sedikit makan.  Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra., yang menuturkan bahwa sejak tiba di Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasakan kenyang dengan roti gandum selama tiga hari berturut-turut sampai Rasul saw wafat.  Ada juga riwayat serupa dari Abu Hurairah.

Para ulama panutan umat pun menempuh laku seperti itu, menghindari kenyang meski mubah dan dari yang halal.  Mereka lebih memilih makan sekadarnya saja. Abu Nu’aim menuturkan dalam Hilyah al-Awliyâ’ bahwa Imam asy-Syafii berkata, “Aku tidak merasakan kenyang sejak enam belas tahun lalu kecuali kenyang yang aku jauhi, sebab kenyang itu memberatkan badan, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan tidur dan melemahkan orang yang kenyang itu dari ibadah.”
Allâhumma waffiqnâ ilâ mâ tardhâ. [Yahya Abdurrahman]

Keluara Besar TAAM, KB-TKIT Insan Kamil& HomeSchooling Group SD Khoiru Ummah 20 Malang, Berduka.




Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Keluarga Besar Insan Kamil Malang, Kehilangan Seorang Pendidik dan Pejuang.
Telah meninggal dunia ustadzah Halimatus Sa’diyah, hari Sabtu malam pukul 22.30.
Semoga beliau mati syahid (10 hari yang lalu bayinya meningga dunia dalam kandungan).
Semoga Allah azza wa jalla mengampuni dosanya, menerima amal kebaikannya.

“Allahummaghfirlahaa warhamha wa ‘afihii wa’fu ‘anha!”

Kami seluruh keluarga besar Homeschooling Group (HSG) Khoiru Ummah &TAAM, KB-TKIT Insan Kamil turut berduka dan merasa kehilangan atas kepergian almarhumah.

**Homeschooling, Alternatif Pendidikan Bagi Anak


Homeschooling, Alternatif Pendidikan Bagi Anak Konsep Homeschooling Group Khoiru Ummah (HSG) ternyata sudah mulai diminati masyarakat ini terbukti dengan adanya publikasi dari laman inilahkoran.com salah satu website yang cukup mumpuni di Indonesia, kini inilahkoran.com juga sudah ada versi cetaknya di Bogor dan Bandung.
Berikut kutipan berita HSG SD Khoiru Ummah Sumedang di inilahkoran.com

Oleh: Vera Suciati
Priangan – Jumat, 8 Maret 2013 | 18:25 WIB
INILAH, Sumedang – Konsep pendidikan home schooling mulai dilirik dan menjadi alternatif bagi orangtua dalam memenuhi pendidikan anaknya. Baik metode home schooling individu yaitu dengan mengundang guru ke rumah dan belajar di rumah dengan kurikulum yang sudah ada ataupun home schooling grup yaitu mengadakan kegiatan belajar mengajar di rumah dengan jumlah murid paling banyak 10 orang.

“Home schooling bisa menjadi alternatif pendidikan bagi orangtua yang akan menyekolahkan anaknya ketika akan memasuki usia SD,” kata staf pengajar Home Schooling Grup (HSG) Khoiru Ummah, Mira Kurnia, Jumat (8/3/2013).

Mira menuturkan, HSG Khoiru Ummah yang berlokasi di Jalan Sopyan Iskandar, sudah berjalan selama dua tahun dan memiliki dua kelas atau rombongan belajar (rombel). Lima orang kelas 1 dan enam orang kelas 2. HSG Khoiro Ummah sendiri bertujuan menciptakan anak yang berkualitas dan terbaik. Salah satu keunggulan dari HSG Khoiru Ummah, akunya, adalah memberikan metode hapalan alquran atau hafidz kepada siswanya.

“Program unggulan kita adalah menciptakan hafidz yang terbaik tapi tanpa ada paksaan, melainkan karena kebiasaan mendengar dan mengucap,” kata Mira.
HSG Khoiru Ummah menggelar kegiatan belajar mengajar selama enam hari, Senin-Jumat mulai pukul 08.00 WIB hingga 14.00 WIB dengan mata pelajaran umum seperti matematikan, bahasa indonesia, dan sains. Namun, mata pelajaran tersebut tidak disampaikan secara intruksional melainkan secara mengajarkan anak untuk berfikir.

“Anak tidak dijejali ilmu melainkan diajak berfikir dan memecahkan masalah,” kata Mira.
Sementara itu, Kepala Sekolah HSG Khoiru Ummah, Pitra Sagara menuturkan, sekolah dibentuk untuk mewadahi bakat dan kecerdasan anak-anak yang memiliki potensi luar biasa.
“Kami khawatir jika dengan pendidikan yang berkonsep intruksional, anak hanya merasa dijejali ilmu tanpa mengubah tingkah laku dan kerpibadian. Apalagi sampai menjadi muslim yang taat,” kata Pitra.

Meski demikian, pihaknya mengaku tidak mudah menginformasikan konsep pendidikan home schooling kepada masyarakat. HSG Khoiru Ummah sendiri selalu mengobservasi calon siswa dan calon orangtua siswa yang berminat masuk HSG.

“Dengan sejumlah pertanyaan, kami melakukan observasi apakah anak dan orangtua siap melakukan
pendidikan seperti ini atau tidak. Jika keduanya tidak siap, maka kami tidak akan menerimanya,” kata Pitra
Sumber bisa dilihat di http://www.inilahkoran.com/read/detail/1965988/home-schooling-alternatif-pendidikan-bagi-anak

*Makanan Bergizi untuk Umat yang Kuat dan Disegani

Senin, 28 Oktober 2013




Sudah menjadi rahasia umum, bahwa manusia Indonesia ini rata-rata memiliki tinggi dan berat badan yang kurang dibanding orang Eropa.  Dan konon, hal ini karena mereka kurang mengonsumsi protein, seperti yang ada pada kedelai (tahu/tempe), susu, telur, ikan, daging ayam atau sapi.  Konon hal ini juga karena selain pada telur, ikan dan daging ayam, produksi nasionalnya semua kurang sehingga harus diimpor.  Tahu dan tempe yang menjadi makanan rakyat, harganya pernah melambung karena impor kedelai mengalami masalah.  Apalagi sapi, yang masalah impornya sampai membuat seorang tokoh Islam “terpeleset” sehingga kini harus “nyantri” di KPK.

Memang soal produksi daging sapi di dalam negeri ini banyak persoalan teknis yang sistemis, mulai dari kultur peternakan yang sangat berbeda, yang tidak cocok untuk industri  daging secara massal.  Hampir 99 persen ternak sapi di Indonesia ada di jutaan peternak kecil, yang tersebar di desa-desa di segala penjuru, yang masing-masing hanya memiliki 1 sampai 3 ekor sapi, dengan bibit dan pakan yang seadanya, dan akan menjualnya atau hanya akan menjualnya pada saat perayaan keagamaan atau kalau ada kebutuhan uang yang tinggi, sekalipun beratnya belum optimal.  Kita tidak memiliki peternakan besar dengan ratusan ribu sapi seperti di Australia.  Kita juga belum memiliki sistem transportasi sapi yang efisien dan didampingi dokter hewan, sehingga sapi-sapi itu sampai dengan sehat ke tujuan dengan biaya rendah.

Walhasil, impor sapi dari Australia masih jauh lebih murah daripada membawa sapi dari Nusa Tenggara ke Jakarta, tempat mayoritas konsumen sapi berada.  Karena itu, sangat bisa dimengerti, bahwa para importir akan mencoba segala cara agar mendapat quota impor dari Kementerian Perdagangan atau Perindustrian, setelah sebelumnya mendapat rekomendasi dari Kementerian Pertanian.

Tetapi kembali ke soal tinggi dan berat badan, tentu saja sumber protein tidak hanya daging sapi.  Barangkali kalau telur, ikan dan ayam – atau juga bebek – dimasukkan, bangsa kita tidak kekurangan protein.  Tinggal soal distribusi saja.  Namun apakah persoalannya produksi atau distribusi, faktanya postur tubuh kita hari ini kurang ideal.  Padahal di abad pertengahan, postur tubuh rata-rata kaum Muslimin lebih tinggi dan kekar dari rata-rata orang-orang kafir di Eropa?


Ketika tahun 711 pasukan Thariq bin Ziyad mendarat di Spanyol dan mengawali 781 tahun (711-1492) kekuasaan Islam di sana, mereka tidak hanya membawa visi hidup yang baru, tetapi juga banyak teknologi yang baru, antara lain di bidang pertanian.  Pertanian itu menentukan makanan yang menjaga kesehatan kaum Muslimin dan juga logistik untuk sarana jihadnya, yaitu kuda.

Posisi logistik dalam setiap ekspedisi jihad adalah vital.  Kemenangan perang di manapun sering ditentukan bukan oleh senjata atau kehebatan tempur pasukan, tetapi oleh logistik yang sudah direncanakan ditaruh di tempat yang tepat pada saat yang tepat.  Dalam perang modern, sebuah pesawat tempur yang canggih tidak ada artinya tanpa bahan bakar.  Demikian juga, sebuah kapal induk bertenaga nuklir, tak ada artinya bila awaknya kelaparan.
Pada masa Thariq bin Ziyad, logistik yang menentukan adalah makanan prajurit dan pakan kuda!  Jadi pada setiap pergerakan pasukan, harus ada rumput bergizi tinggi yang bisa ditanam atau disediakan dengan cepat.

Karena jihad menjangkau daerah yang luas dengan waktu yang lama – dapat puluhan tahun – maka logistik berupa rumput ini juga harus bisa dihasilkan di daerah-daerah yang strategis yang sudah dikuasai oleh pasukan Islam. Rumput yang ditanam pun bukan sembarang rumput, bila yang ditanam rumput yang biasa-biasa – maka akan dibutuhkan areal yang sangat luas atau waktu yang sangat lama untuk menanamnya dan kuda perang pun tidak bisa tumbuh perkasa.

Maka bagian logistik dari pasukan Islam saat itu sudah mengenal rerumputan bergizi tinggi yang sangat efektif untuk menumbuhkan kuda, tanaman bergizi tinggi inilah yang disebut alfalfa. Karena penguasaan Islam yang lama khususnya di Spanyol, teknologi menanam alfalfa ini juga lalu menular ke bangsa Spanyol.

Ketika 800 tahun kemudian panglima perang Spanyol Hernando Cortez menaklukkan bangsa Aztecs di Mexico, bukan hanya strategi membakar kapalnya yang ia jiplak dari Thariq bin Ziyad – tetapi juga membangun logistik pasukan berkudanya dengan tanaman yang sama dengan yang diperkenalkan peradaban Islam di Spanyol selama 781 tahun!  Dari alfalfa yang dibawa ke benua Amerika inilah kini Amerika Serikat sangat dominan di bidang “nutritious plants” hingga kini.  Dan mereka adalah pengekspor daging terbesar di dunia.

Dari mana kita membuktikan bahwa alfalfa yang merupakan produk pertanian terbesar ke-3 di Amerika setelah jagung dan kedelai ini berasal dari dunia Islam? Yang termudah adalah dari sisi bahasa! Karena peradaban Islam yang berkembang hampir 8 abad di Spanyol, maka banyak sekali kata atau nama-nama yang berasal dari Islam – termasuk diantaranya ya alfalfa ini.  Keith Millier seorang warga Amerika yang pakar Timur Tengah menulis dalam karyanya “Arabic Words in English” (http://millerworlds.blogspot.com/2010/07/arabic-words-in-english.html) bahwa alfalfa berasal dari alfisfisa, yang berarti “fresh fodder” atau pakan segar.

Dalam bahasa Spanyol maupun dalam bahasa Inggris  hingga kini tidak ada kata lain yang searti alfalfa untuk nama tanaman bergizi tinggi (nutritious plants) yang dibawa dari dunia Islam 14 abad lalu itu. Maka dari nama ini tidak bisa disangkal lagi bahwa kekuatan produk pertanian terbesar ke 3 di Amerika tersebut bisa dirunut berasal dari peradaban Islam di masa lampau.

Ironisnya di dunia Islam sendiri tanaman alfalfa ini kini nyaris tidak pernah terdengar lagi, karena tidak menjadi perhatian untuk di produksi.  Yang sudah ada baru ide mensinergikan perkebunan sawit dengan peternakan sapi, yang masih harus dibuktikan hasilnya.
Prof Dr Zagloul Al Najjar - Fellow of Islamic Academy of Science di Mesir – yang menulis lebih dari 150 mukjizat Alquran dan Implikasinya pada ilmu pengetahuan, menjelaskan dengan detil rantai makanan yang diungkapkan oleh Allah dalam serangkaian ayat di surat ‘Abasa mulai dari ayat 24 tersebut diatas sampai ayat 32.
“Hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, Kamilah yang mencurahkan air yang melimpah, kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana kami tumbuhkan biji-bijian, dan ‘anggur dan sayur-sayuran’, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun yang rindang, dan buah-buahan serta rerumputan, untuk kesenanganmu dan ternakmu”. (QS ‘Abasa: 24-32).

Ketika profesor ini membahas ayat 28 “wa ‘inaban wa qadhban” misalnya – yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “dan anggur dan sayur-sayuran” - dalam bahasa Inggris diterjemahkan “and grapes and nutritious plants” – ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan nutritious plants adalah tanaman alfalfa – yang memang sangat kaya dengan gizi.
Kalau kita melihat bahwa Alquran masih sama, masih pula dihafal oleh banyak orang, tetapi dulu kaum Muslimin bisa menjadi umat dengan fisik yang kuat serta memiliki pasukan jihad yang kuat, karena di belakangnya ada teknologi pertanian yang kuat, maka apa yang hilang sehingga sekarang keunggulan kita di bidang ini tiada?

Salah satu jawabannya, karena kita sekarang tidak memiliki lagi negara yang mendorong kita menjadi umat yang unggul, tak ada lagi misi jihad untuk merahmati seluruh alam, tidak ada lagi yang membutuhkan teknologi logistik di belakangnya, sehingga juga tidak ada lagi anak-anak cerdas kaum muslimin yang mencurahkan waktu dan pikiran untuk mempelajarinya.

Dan karena anak-anak cerdas Muslim ini langka, kita kembali masuk ke dalam lingkaran setan, nyaris kehilangan akal untuk meningkatkan produksi protein, sehingga anak-anak umat kehilangan kesempatan untuk meraih gizi tinggi, dan menjadi cerdas untuk menjadikan umatnya kuat dan disegani.  Kita malah terus dibodohi oleh negara-negara kafir untuk menjadi pasar sapi mereka, sekalipun para peneliti ternak kita konon banyak meraih prestasi riset di bidang sapi, tetapi para politisi kita justru ikut-ikutan “dagang sapi”, dan sebagian BUMN kita cuma dijadikan “sapi perah” sampai mati. Sumber

Testimoni